| Kebiasaan Mendongeng Hilang, Sastra pun Mati |
| Tuesday, 06 January 2009 | |||
|
"Sekarang orangtua di Madura sibuk dengan kegiatan sendiri, sehingga melupakan media pembelajaran moral yang sangat efektif, yakni mendongeng. Lewat dongeng itu sebetulnya kita bisa menanamkan kesukaan akan sastra kepada anak-anak," katanya kepada ANTARA di Surabaya, Rabu (26/7) malam.
Penulis sastra Madura yang juga dosen di Universitas Madura (Unira), Pamekasan, itu mengemukakan bahwa saat ini harus ada aksi yang bisa menggerakkan kembali kebiasaan mendongeng di masyarakat, khususnya untuk menjadi pengantar tidur bagi anak.
"Saya sangat prihatin, karena bukan hanya sastra yang ditinggalkan oleh penuturnya, melainkan juga bahasa Madura. Sebagaimana diungkapkan oleh Dr A Syukur Ghazali dari Universitas Negeri Malang, bahasa Madura telah menjadi bahasa kedua dan bahasa Indonesia menjadi bahasa ibu bagi orang Madura," sambungnya.
Karena itu, katanya lagi, tidak heran jika jumlah peserta lomba cipta puisi berbahasa Madura yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Surabaya hingga kini hanya delapan orang, padahal pendaftaran sudah dibuka sejak lama.
Terangnya, kini anak-anak di Madura, baik di kota maupun desa, telah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa permainan sehari-hari. Mereka juga berhadapan dengan kenyataan di sekolah, mulai dari TK yang tidak lagi menggunakan pengantar bahasa Madura.
"Padahal, seharusnya, untuk TK dan SD itu guru-guru juga menggunakan bahasa Madura, selain tentunya menggunakan bahasa Indonesia. Dengan demikian, kebiasaan menggunakan bahasa Madura tidak hilang," sambungnya.
Ia menjelaskan, selain dari keluarga, menanamkan kecintaan masyarakat terhadap bahasa dan sastra Madura dapat melalui lembaga pendidikan. "Itu bisa dibiasakan dengan mencipta kondisi agar anak-anak bisa membuat sastra dalam bahasa Madura," tambahnya. Sumber: Antara Penulis: Ati
di tulis oleh wow power leveling, December 30, 2009 you can get wow power leveling and world of warcraft gold or |
|||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|


SURABAYA, KAMIS - Sastra Madura mati antara lain karena para orangtua di pulau berjulukan Pulau Garam itu meninggalkan kebiasaan mendongeng kepada anak-anak mereka. Pendapat tersebut datang dari seorang penggiat sastra Madura, M Tauhed Supratman.
